Minggu, 30 Desember 2018

Di Penghujung Senja



Malam telah larut, tetapi Senja masih terjaga dari tidurnya. Sesekali ia coba untuk memejamkan mata dan tak lama ia membuka lagi matanya. Senja terus  memikirkan kehidupanya kelak.
Sudah delapan  bulan Senja difonis dokter mengidap penyakit leukemia dan dokter menyatakan bahwa satu bulan lagi Senja akan berbaring untuk selamanya. Mendengar hal itu Senja menjadi muram dan pesimis.

. . . . Keesokan harinya . . . .

Saat semua berkumpul untuk sarapan, Senja bertanya pada ibunya “Bu, Senja masih punya banyak cita – cita. Tapi mengapa Tuhan hanya memberi sedikit waktu untukku ??”. mendengar hal itu ibu Senja terharu, matanya yang sayup itu mulai berkaca – kaca sembari melemparkan senyumnya pada Senja. “Mungkin Tuhan punya jalan lain buat kamu.” Sahut Tyo. Tyo adalah kakak Senja. Mendengar hal itu Senja terdiam, tak lama kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
“Senja. . . . . Senja. . . . kamu mau kemana ??” Panggil Ibunya. Tapi Senja tak menghiraukan dan berlalu pergi.
Hari semakin siang tetapi Senja tak juga kembali ke rumah. Ibu dan kakaknya sibuk mencari, akan tetapi Senja tak jua ditemukan.

            “Langit senja memang indah. Beruntung sekali aku diberi nama Senja.” Gumam Senja. Tiba – tiba awan mendung datang dan menyelimuti kecerahan langit senja yang menguning. Tapi Senja tak jua beranjak dari tempat ia berdiri.
Angin bertiup semakin kencang, suara petir dan kilat saling bersautan, tak sedikitpun membuat Senja takut.
“Hheee. . . . . . Kamu yang berdiri disana !!!” terdengar teriakan.
Dan lagi – lagi Senja tak menghiraukannya. Kemudian Seseorang berusaha menarik Senja dari tempat itu. “Disitu bahaya !!! jangan berdiri disitu, jembatan itu mau ambruk !!!.” Senja hanya menatap dalam mata orang itu kemudian ia berkata, “Ambruk !!! Seperti aku yang sebentar lagi akan tumbang juga.” Kata Senja putus asa.
Orang itu kembali menatap Senja. Dilihatnya darah mengucur dari hidung Senja, dan wajah Senja mulai pucat. “Kamu kenapa ?” Tanya orang itu. Senja pun pergi dan berlari begitu saja. Ia terus berlari seakan hanyut dibawah oleh hujan yang lebat sore itu. 

           

Akhirnya ia tiba dihalaman rumahnya. Tapi Senja tak langsung berteduh. Dia hanya berdiri dan memandangi pintu rumah itu. Sesekali tubuhnya yang lemah itu terjatuh, tapi ia berusaha untuk bangkit. Sampai akhirnya Senja tak kuat lagi untuk bertahan dan tubuh yang lemah itu tergeletak di atas tanah dan diguyur oleh air hujan.
Dari kejauhan sayup terdengar suara motor yang mulai terdengar jelas, ternyata itu suara motor Tyo. Tyo kaget saat melihat Adiknya tergeletak dihalaman rumah. Akhirnya ia megangkat Senja ke dalam rumah. Mengetahui hal itu ibu Senja segera menelpon dokter pribadi Senja.
Tepat saat dokter itu datang, Senja sudah tersadar  ia bangkit dari ranjangnya dan mencoba keluar lewat jendela kamarnya. “Senja, kamu mau kemana ??” Tanya dokter itu. Senja pun terdiam dan berkata, “Tuhan itu tidak adil !! saya masih punya banyak impian yang ingin saya wujudkan, tapi mengapa begitu singkat waktu yang Tuhan berikan ??” raut muka Senja berubah muram.
“Senja, kamu harus mengerti inilah kehidupan. Tuhan sudah menentukan jalan hidup semua orang. Dan yang harus kamu tahu mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kamu. Semua yang terjadi didunia ini pasti akan perpusat pada satu titik pada akhirnya.” Jelas dokter menenangkan Senja. Senjapun terdiam dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
. . . . Dua Hari kemudian . . . .
                Senja kembali ke jembatan yang biasa ia sebut jembatan senja. Ia berdiri menunggu datangnya waktu senja. “Maaf, Jembatan ini sudah tua sangat rawan ambruk.” Jelas orang yang waktu itu. “Menurutku tidak !!!” Jawab Senja. “Jembatan ini mungkin sudah tua, tapi. . . . . . ” senja terdiam menatap langit,  lalu ia tersenyum dan berkata, “Indahnya warnamu membuatku merasa tenang.” “Siapa nama Kamu ??” Tanya orang itu “Senja” Jawab Senja singkat. “iya. . . . sekarang memang sudah senja.  Yang aku manksud, siapa nama Kamu ??” tambah orang itu.
sekali lagi Senja menjawab “Namaku Senja”.  Kemudian dia pergi meninggalkan orang itu. “Aku Tama” teriak orang itu. Mendengar hal itu Senja menoleh dan melemparkan senyumnya.
            Keesokan harinya Senja kembali ke jembatan itu. Saat itu dia melihat Tama bersama dengan anak perempuan. Senja segera mendekat dan tak sengaja ia mendengar pecakapan Tama dan anak itu. “Kak. . . senja itu seperti apa ?” Tanya anak perempuan itu. “Senja itu sangat indah. Warna – warnanya sangat menawan. Ada warna merah, jingga, ungu, kuning, bahkan ada warna merah muda.” Jelas Tama. “Pasti sangat bagus. Kapan Bintang bisa melihat senja ??” Tanya anak perempuan itu pada Tama. Tama yang menyadari kehadiran Senja memalingkan pandangannya pada Senja. “Senja. . . !!!” Seru Tama. “Sejak kapan kamu disini ?” TanbahTama. Senja hanya tersenyum. “Kak Tama, apa Senja bisa berbicara ?” Tanya Bintang dengan polosnya. Tama mengelus kepala Bintang dan berkata “Senja yang ini teman kakak.” “Kak Senja pasti cantik ?” Sahut Bintang. Saat itu Senja baru menyadari bahwa Bintang tidak bisa melihat. “Bintang juga cantik.” Jawab Senja. “Bintang adik kamu ?” Tanya Senja. “Iya, dia buta.” Jawab Tama. “Kenapa bisa seperti itu ??” Tanya Senja sekali lagi pada Tama. “Dia buta kerena kecelakaan waktu itu.” Jawab Tama. Kemudian Senja terdiam dan pergi begitu saja.
            “Ibu, nanti kalau Tuhan mengambil nyawa Senja, Senja ingin kornea mata Senja diberikan pada Bintang.” Jelas Senja pada ibunya. Ibu Senja hanya bisa mengiyakan permintaan anaknya itu.
            Waktu berjalan begitu cepat. Keadaan fisik Senja semakin memburuk. Dan Senja harus menjalani rawat inap dirumah sakit. Sudah satu minggu Senja tergeletak diranjang rumah sakit tempat ia dirawat. Tubuh yang lemah itu semakin terlihat tak berdaya. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tiba – tiba Senja bangkit dari ranjang rumah sakit. Ia berteriak keras hingga membuat suster dan dokter yang berjaga waktu itu segera menghampiri Senja. “Senja. . . . aku ingin melihat senja. Aku ingin melihat senja untuk terakhir kalinya.”  Ucap Senja lantang. Kebetulan jarak antara rumah sakit dan jembatan itu tidak terlalu jauh sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama.
. . . . Setelah sampai dijembatan . . . .
Dari kejauhan Senja melihat sosok Tama bediri ditengah jembatan. Senja segera menghampiri Tama. “Bukannya disini berbahaya ?” Tanya Senja. “Menurutku tidak !!!” balas Tama. “Mungkin jembatan ini sudah tua. Tapi disinilah aku bisa melihat senja dengan indahnya.” Tambah Tama. “Kamu benar.” Jawab Senja. Keseimbangan tubuh Senja mulai memburuk ia terjatuh dan  Tama menjaganya. “Tama bilang ke Bintang, sebentar lagi pasti dia biasa melihat senja.” Kata Senja dengan tersenyum. Mendengar hal itu Tama terharu, ibu dan Tyo mendekat. Senja menggenggam erat tangan ibunya dan ia berkata “Bu, gelap Senja nggak bisa lihat apa – apa.” Ibunya menangis. “Coba kamu ingat – ingat senja yang baru saja kamu lihat.” Kata Tama. “Aku nggak ingat.” Jawab Senja. “Bu, dingin disini gelap Senja takut.” Kata Senja dengan gemetar. “Sabar iya nak.” Jawab ibunya sambil terisak – isak.
            Tapi saat diperjalan menuju rumah sakit, denyut nadi Senja semakin melemah genggaman tangannya juga mulai melemah. Perlahan detak jantungnya menghilang nafasnya tak ada. “Senja bangun !!!” Seru ibunya. “Senja. . .  bangun nak !!! kita sudah sampai dirumah sakit.” Tambah ibunya. “Bu, Senja sudah pergi.” Jelas  Tyo. Ibu Senja pun mengis tak kuat melihat kepergian anak bungsunya. Memang benar hari ini tepat satu bulan Senja difonis oleh dokter.
Saat langit mulai gelap Senja menghembuskan nafas terakhirnya. Ia seakan pergi bersam senja disore itu.
            Beberapa hari kemudian Bintang menjalani operasi mata. Operasi tersebut berjalan lancar. Satu minggu sudah terlewati, operasi yang dijalani Bintang berhasil dan akhirnya Bintang bisa melihat dunia.
            Sore itu dijam dan ditempat yang sama Bintang melihat langit senja. “Kak Tama dan Kak Senja benar, langit senja memang indah. Mungkin kak Senja secantik langit ini.” Kata Bintang. “Memang.” Sahut Tama kemudian tersenyum. “Terimakasih Senja, kamu berhasil mengembalikan keceriaan Bintang dan kamu juga sudah bisa mewujudkan keinginannya.” Kata Tama dalam hati.
“Akhirnya Bintang bisa melihat senja.”


~ End ~

Kamis, 29 Juni 2017

CACAT SOSIAL

Haii........
Mungkin tidak banyak yang membaca semua postingan saya dari tahun ke tahun, tapi yasudahlah... Memang saya tidak berharap banyak yang membaca tulisan saya, kurang penting karena hanya sebatas tulisan sampah. tulisan sampah berisi keluh kesah, kebimbangan, kegalauan dan sedikit cerita bangga dan bahagia yang tersirat didalamnya. Karena saya hanya menulis untuk mengisi kekosongan waktu sembari mencurahkan isi hati.

Jujur.....
Kenapa jujur itu menjadi penting?
Beberapa orang yang pernah saya temui, mengakatakan bahwa saat ini kejujuran itu bisa dibeli, kejujuran mahal harganya, kejujuran sudah mulai langkah di dunia ini, Tapi banyak juga yang merasa kecewa ketika kejujuran datang pada kehidupannya. Sangat aneh memang ketika hal yang sebelumnya dianggap mahal dan sangat dieluh - eluhkan tapi ketika datang, menjadikannya murka, menjadikannya pembenci atau bahkan ingin membunuh. Lalu dimana letak "PENTINGNYA KEJUJURAN" ? Menjadi pertanyaan besar bagi saya. Terutama di lingkungan keluarga saya saat ini.

Aib....
Berbicara tentang aib, setiap orang mungkin akan menutup rapat aibnya,berharap tidak satu pun orang mengetahui aib bahkan ada yang berharap agar Tuhan tidak tahu, padahal jelas itu sesuatu yang sangat tidak mungkin. Lucu memang, Silahkan tertawakan, hidup itu bebas. Kadang kita tertawa dan kadang kita juga yang ditertawakan. 

Rahasia....
Tentang sebuah rahasia yang ingin saya ungkap sejak lama, yang sebenarnya dengan menyimpannya hanya akan membuat beban dipikiran. Semakin saya simpan semakin saya eram terasa semakin berat, tapi apalah daya hanya bisa menunggu waktu untuk mengungkapkannya. Rahasia bisa saja aib atau sesuatu yang penting yang hanya boleh diketahui oleh beberapa orang atau mungkin tak seorangpun boleh mengetahuinya. Tapi dibalik rahasia ini terselip kebodohan besar, yang teramat besar bercampur dosa.  Dosa yang sengaja Kita ciptakan, yang sengaja saya rangkai berdua dengannya. DOSA KITA BERDUA !!! Mungkin seperti itu. Karena sebuah dosa dan kesalahan terciptalah "Dia". Pemberian Tuhan yang luar biasa makluk kecil suci tak berdosa yang tidak tahu apa - apa, yang TIDAK PANTAS dipersalahakan atau dijadikan korban "KEEGOISAN KITA".

Semua berawal saat kita mengetahui itu, saat suatu kebenaran terungkap. Jujur ada rasa bangga, bahagia yang terselip waktu itu. Tapi semua kebahagiaan itu tertutup berganti rasa bersalah dan rasa takut yang berkecambuk dalam hati. Merasa senang karena saya bisa sembuh dari penyakit yang saya derita, merasa bangga karena apa yang diucapkan orang - orang terhadap saya seketika terbantah (Sulit Memiliki Keturunan) dan tiba- tiba berkecambuklah rasa itu bagaikan petir yang datang menyambar di siang hari. Rasa takut akan mengecewakan orang tua, sementara mungkin sebagai seorang anak yang diharapkan bisa menjadi lebih baik dari orang tuanya malah melakukan kebodohan yang bisa mencoreng muka kedua orang tuanya. Karena rasa yang begitu berklecambuk sempat terbesit pikiran - pikiran jahat untuk melenyapkan Dia. Tapi entah, rasa itu seolah sirnah mengingat dia adalah makluk yang tidak tahu apa - apa yang tidak pantas dikorbankan karena kebodohan ibu bapaknya.

Dan...
Akhirnya rahasia itu pun terbongkar dengan sendirinya, ketika orang tua mulai curiga. terjadi begitu banyak perubahan pada diri saya. Dan saat itulah waktu mengharuskan kita untuk berkata yang sejujurnya. Begitu mengetahuinya jelas rasa kecewa itu tergurat diwajah kedua orang tua, merasa berdosa. Sangat merasa berdosa, ketika kita GAGAL menjadi apa yang diharapkan. Dan kata - kata yang tidak ingin saya dengarpun akhirnya terdengar juga begitu memekakan telinga. "Di kuliahno, disekolahno ben ngerti tambah nggawe isin wong tuo". Terngiang sungguh dikepala serasa berputar - putar. Hati saya begitu bergetar terasa hancur. Seketika perhatian, canda tawa dan kehangatan yang biasa saya dapatkan dikeluarga saya terenggut. Sikap orang tua yang mendiamkan dan seolah acuh tak acuh, sesekali mengulang kata - kata itu semakin menyesakkan saya. Hampir setiap teringat, entah seperti air mata sudah tidak bisa terbendung. Apalagi itu semua terungkap saat - saat menjelang lebaran. Harusnya moment lebaran bisa membuat siapa saja merasa bahagia, tapi tidak dengan saya semua serba dibatasi, mulai dari larangan untuk tidak keluar rumah, sikap dingin orang tua yang semakin membuat saya menjadi tertekan. Berharap agar waktu ini keadaan seperti ini cepat berlalu. Berharap ingin segera pergi agar tidak menjadi AIB KELUARGA.

Mendekati hari pernikahan...
Memang sudah tahun lalu kita merencanakan pernikahan, tanggalpun sudah ditentukan, tepatnya setelah lebaran tanggal 12 Juli 1017. Tapi suasanya yang harusnya penuh dengan pembicaraan serius menjadi seolah entahlah, mungkin karena orang tua juga sudah terlanjur kecewa dengan kita. Sudah, saya pun jadi ikut diam karena merasa tidak dianggap, karena merasa diacuhkan. Apa saya salah? Jawaban merekanpun semakin dingin ketika berbicara dengan saya. Dan tak jarang sering mengulang - ulang kalimat itu "Ngisin - ngisini Wong Tuo, opo jare tonggo lek rabi wetengmu wes gede koyo ngunuh?". Dalam hati ingin sekali saya menjawab dalam hati ingin sekali saya membantah. Tapi sayangnya hanya bisa saya jawab dalam hati. "Iya, memang saya salah, semua salah saya. Sebagai anak saya tidak pernah membuat orang tua bangga. Malah sekarang mencoreng nama baik orang tua. Tenang Yah, Bu.... Tinggal dua minggu ae aku wes ga bakal nang keneh, aku bakal ngalih teko kene ben sampean ga isin maneh". Semakin diulang - ulang semakin membuat saya  tidak berhenti menyalahkan diri saya sendiri.
Suatu hari....
Jika ada saudara, kerabat, family atau teman atau bahkan anak - anak saya kelak. yang tidak sengaja menemukan tulisan ini. Tulisan ini adalah curahan hati saya, "CURAHAN HATI SESEORANG YANG CACAT SOSIAL". Yang pernah dikucilkan orang tua karena telah membuat malu dan menjelekkan nama orang tua. Saya berharap, siapapun yang nantinya membaca jangan pernah mencontoh atau mengulangi kebodohan yang pernah saya lakukan. Sekalipun saya tidak melakukan tindakan - tindakan diluar batas seperti ABORSI. Cukup jadikan pelajaran bagi kalian. Lebih baik menikah baru punya keturunan daripada mempunyai keturunan bukan dari hasil pernikahan.

Untuk anakku.....
Untuk anakku yang saat ini masih belum melihat dunia... Jangan pernah tersinggung dengan apa yang ibumu tulis ini, ini hanyalah ungkapan hati seseorang yang sedang melayang - layang pikiranya. Dewasalah menyikapi ini. Mungkin diawal kehadiranmu ada beberapa orang yang tidak mengharapkan. Tapi jangan pernah risau Insha Allah Ibu dan Ayahmu akan selalu sayang dan mendoakan agar kelak kamu bisa menjadi manusia yang baik lebih baik dari kedua orang tuamu. Jangan pernah membenarkan atau melakukan kebodohan yang telah kami lakukan. Insha Allah Kita akan belajar memperbaiki diri dan mendidikmu sebaik mungkin, agar kamu tidak tersesat seperti kami. Cukup kami saja yang membuat dosa semacam ini.

Mengertilah......
KAMI TIDAK PERNAH MENYESALKAN HADIRMU DI DUNIA INI KARENA KAMU ADALAH BUKTI NYATA CINTA KAMI.

Sayang Kamu.........

Minggu, 08 November 2015

Jalanku Serasa Buntuh !!!

Selepas itu semua aku jalani......
Akhirnya aku selesaikan kuliahku dan gelar sarjana kini telah aku raih. tapi entah kenapa sekarang tersa semakin sulit aku rasa. Entah rasa apa ini ?

Seperti aku membenci diriku sendiri....
Seperti aku ingi menangisi diriku sendiri....
Atas ketidak mampuanku menjadi diriku yang seutuhnya.
Atas ketidak mampuanku untuk menyenangkan hati kedua orang tuaku.

Awal itu dimulai saat prosesi yudisium dan aku dinyatakan lulus dengan IPK terakhir 3,66 dengan masa pendidikan 3,8 tahun yang aku tempuh. Menurut orang lain itu adalah hal yang cukup baik dan mungkin beberapa juga mengakatan bahwa hal itu cukup memuaskan.
Tapi entah dibalik sumringah bibir ini memancarkan senyum, terbesit perasaan pilu dihati. Ada kegundahan yang tersirat hingga kini.

Selepas lulus memang ada perasaan lega dalam diri, tapi jujur aku tidak pernah bangga dengan apa yang aku raih. Aku tidak pernah menganggap apa yang aku dapat selama ini dengan perasaan wahh... Aku hanya merasa biasa saja, karena aku rasa semua orang bisa melakukan apa yang aku lakukan.

Lebih banyak perasaan benci dari diri ini yang muncul, karena mulai tanggal 4 Juli 2015 aku melalui prosesi wisuda sampai detik ini 8 November 2015 aku masih berstatus "PENGANGGURAN".
Aku kecewa karena tidak bisa menjadi apa yang aku ingin, terkadang aku tersadar semua butuh proses, terkadang terbesit aku harus sabar dan tetap berusa sebaik mungkin untuk mencapai apa yang aku ingin. Tapi entahlah aku masih saja merasa kecawa dengan diri ini.

Bingung harus melakukan apa?
Sudah begitu banyak lamaran aku kirim ke perusahaan - perushaaan..
Melalui tahap demi tahap interview tapi tak kunjung h=juga aku temui titik terang..
Apa yang ahrus aku lakukan?

Aku kecewa.... Sedikit Putus asa..... Bercampur dengan kesedihan !!!!!

Rabu, 10 Juni 2015

Lagi Lagi Aku.......

Entah apa yang salah
Entah siapa yang patut disalahkan
Entah lah mencari kesalahan memang bukan solusi.
Hanya saja karena entah
Hanya saja karena acuh
Aku malu sendiri dibuatnya
Rasa ingin menangis, rasa ingin tertawa...
Iya, menertawakan diriku yang erlalu bodoh, yang terlalu meremehkan waktu, yang terlalu sombong dan meras semua akan bisa aku lakukan pada waktu yang cukup singkat.

Tapi...
Apa yang sekarang aku dapat ?
Hanya buih - buih penyesalan yang mengembang kepermukaan, memenuhi seluruh muka dan membalurnya dengan rasa malu. Hahahahahaha....
Iya, hanya itu saja yang keluar dari mulutku...

Entah...
Entah nasib atau kutukan ?
Begitu bertubi - tubi datangnya
Tapi semoga dengan ini semua aku bisa berubah...
Merubah diri, berhenti mempermalukan diri, berhenti mencoreng muka sendiri dan berhenti bertindak bodoh. Tanpa perlu kehilangan diri....

Semoga ini pertanda baik...
Karena apapun yang terjadi bukan karena kesengajaan.
Yakin rencana Tuhan Lebih asiikk....

Buat yang ingin menertawakan, silahkan tertawa sekeras mungkin kalau bisa sampai robek itu mulut. Buat yang sedang gembira, bergembiralah hingga terlarut dalam kebahagiaanmu itu...
Aku akan tetap yakin dengan rencana Tuhan....
Dan aku akan menutup telingaku hingga aku tak lagi mendengar cemoohan dan tawa busukmu itu...
Semoga wajah palsumu tetap paslu hingga kau bingung untuk membedakan wajahmu sendiri.

Semoga...
Semoga saja baik...
Semoga baik untuk semuanya !!!!

Minggu, 23 November 2014

Rindu Menghabiskan Senja Bersamamu

Waktu....
Semua adalah waktu...
Senja adalah bagian waktu, waktu yang begitu aku rindukan..
Senja yang menyapa...
Bersama itu aku pilu dibuatnya..
Sendiri dalam lamunan senja, bergumam dalam hati atas nama kerinduan..

Aku rindu...
Rindu menghabiskan senja bersamamu...
Aku tahu senja adalah bagian dari waktu yang selalu bisa berlalu.. Tapi entah, rindu ini tak juga berlalu bersama senja... Yang perlahan pergi, meninggalkan cahaya pelangi di sore itu. Senja aku menyebutnya...

Senja...
Aku merindunya...
Senja sampaikan salamku untuknya...
Senja... Aku merindunya...

Untuk Ayah


Untukmu Ayah


Ayah....
Begitulah aku memanggilmu.

Ayah....
Beribu terima kasih aku ucapkan atas kesabaranmu dan jerih payahmu dalam membesarkan aku. Semoga kelak aku tidak mengecewakanmu, atau bahkan melukaimu.

Ayah....
Meskipun lelah tengah menggelayuti, namun sosokmu tak pernah mengeluh. Engkaulah yang mengajarkan padaku arti sebuah perjuangan. Engkau yang membuatku mengerti arti sebuah ketegaran.

Ayah....
Tak peduli seberapa besar aku bertumbuh, aku bangga telah memilikimu sebagai teladan dalam hidupku. Nafas ayah adalah semangat untukku, perjuanganmu untukku tak akan pernah aku sia - siakan.

Selamat Ulang Tahun Ayah.
Semoga selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang. Hingga Engkau bisa menyaksikan dan berbahagia bersama kesuksesan Kami anak -anakmu.




Doaku selalu menyertaimu

We Love You

Sabtu, 22 November 2014

Malam ini Rindu Menjeratku

Masih malam ini...
Masih pada malam yang sama aku terjaga dari tidurku
Menikmati kebisuan, kebiruan yang mengendap

Masih malam ini...
Waktu masih besamaku tak memburuku, hanya mimbisu
Iya, masih pada malam yang sama bersama waktu yang sama namun dengan rasa yang berbeda
Hampa, hening, sunyi tak bersuara. Ada aku bersama sepi yang selalu menemani.
Sesekali aku merasa begitu dekat dan sesekali aku merasa teramat jauh hingga tak bisa merengkuhnya.

Masih malam ini...
Malamku hening berteman dengan denting jam dinding yang sedikit demi sedikit menyapu kesunyianku, waktu masih tetap setia. Sepipun iku bermanja didekatku.

Masih malam ini...
Malam yang dipenuhi dengan kesunyian, hingga hatiku terasa hampa. Aku memcoba beranjak dari singgahsanahku, tetap hanya sepi yang aku temui. Sepertinya malam ini sepi yang selalu setia menemaniku.

Aku sepi dan merasa rindu...
Malam ini begitu membiru, meringkuk dalam kesunyian bersama malam, sepi, dan denting jam dinding yang bisa sedikit menyapu kesunyianku.

Aku rindu..
Malam ini aku begitu rindu
Malam ini rinduku begitu menusuk, datang bertubi - tubi. Membuatku berteriak dalam kesunyian, iya aku berteriak. Namun tetap saja sepi, tetap saja aku seorang diri.

Aku rindu...
Rinduku seperti belatih...
Rinduku seperti belatih yang menusuk dan menikam jantung
Mungkin begitu rindunya, mungkin begitu rindunya aku, mungkin....
Mungkin...
Mungkin...
Mungkin...
Mungkin...
Mungkin harusnya aku akhiri tulisan ini
Mungkin harusnya aku meringkuk bersama rinduku
Mungkin harusnya aku membungkus rinduku
Mungkin harusnya aku bertemu dengan kerinduan ini agar aku tidak merasa rindu
Mungkin...
Mungkin pada saatnya nanti rinduku akan bertemu dengan yang dirindukan


Rinduku Berlebihan
Rinduku Sungguh Terlalu Rindu
Oohh... Rindu
Aku Merindumu

Ingin Aku Ingin....

Malam ini...
Aku membisu bersama malam, mencoba mengungkap, menyeruakkan mimpi - mimpi yang aku inginkan.

Membisu membuka mataku...
Membisu menerbangkan anganku....
Membisu membebaskan pikiranku...
Membisu membisu membisu membisu membisu....
Aku membisu bersama malam, melampiaskan hasrat otakku yang mungkin untuk saat ini sengaja aku penjarakan, hingga malam ini menjadi liar, tak terkendali dan sama sekali tanpa batasan.

Aku membisu....
Besama malam....
Dalam hati aku tertawa terbahak - bahak, disisi hatiku yang lain aku tetap membisu dan merenungkan apa yang telah aku bebaskan. Salahkah ? Benarkah ?
Semua batasan itu hanya aku yang tahu, tak ada seorangpun yang akan akau biarkan memasang tali penjerat hasratku.

Aku biarkan bebas, aku biarkan lepas terhempas tersapu gelombang dan kemudian tertiup angin. Namun jelas ambigu ketika semua beradu jadi satu.
Obsesi...
Keingin Tahuan...
Optimisme...
Rasa Egois....
Ketakukan....
Teriakan....
Tangisan....
Ragu...
Senyuman....
Tawa...
Khayalan....
Mimpi...
Harapan dan Doa...

Sungguh aneh rasanya, ketika semua beradu menjadi satu bergejolak penuh ambisi. Namun sayang, langkahku hanya dalam otakku, hanya sebatas mimpi. Iya, sebatas mimpi yang aku sendiri bingung ingin membawanya kemana. Atau mungkin aku harus terlelap hingga usai aku rajut semua mimpi itu kemudia terbangun dan menyadari itu hanya mimpi, atau mungkin aku harus hidup didalam mimpi.

Ingin aku...
Aku imgin...
Ingin aku ingin...
Ingin ingin aku...
Aku sungguh menginginkannya...
Tapi sampai saat ini langkahku belum berajak dari ranjang yang nyaman ini, yang membuatku bertahan bermalasan hingga aku melupakan mimpi itu. Semu memang, tak nyata mimpi itu.


Tapi aku tetap bermimpi...
Aku tetap ingin menjadikannya nyata...
Meski aku belum memulai langkahku.

Selasa, 18 Maret 2014

BIARKAN aku ENGGAN

Biarkan hatimu yang bicara. . . .
Biarkan hatimu yang merasakan mengiringi setiap perasaan yang mengalir. . . .
Biarkan hatimu yang menentukan jalan mana yang akan kamu pilih. . . . .
Biarkan pikiranmu berjalan mengiringi semua yang terjadi. . . .
Biarkan saja. . . .
Biarkan saja semuanya. . . .
Biarkan semua berjalan seperti biasanya. . . .
Biarkan kehidupan ini berjalan sebagaimana mestinya, sewajarnya saja. . . .
Biarkan bahagia ini menyebar. . . .
Biarkan sedih ini menyebar. . . .
Biarkan Semua rasa kelabu semakin membiru. . . .
Biarkan semua rasa yang hancur menjadi semakin berkeping. . . .
Biarkan semua rasa yang telah luruh terseret terbawa suasana yang haru. . . .
Biarkan saja. . . .
Biarkan saja. . . .
Biarkan saja. . . .

Enggan untuk membaca. . . .
Enggan untuk mengerti. . . .
Enggan untuk memahami. . . .
Enggan untuk meraskan. . . .

Biarkan saja berjalan sebagaimana mestinya
Biarkan saja berjalan seperti maumu
Biarkan saja berjalan seperti daun yang terbawa angin
Biarkan terbalut kesedihan
Biarkan terseret rasa yang perih

BIARKAN AKU ENGGAN !!!

Senin, 17 Maret 2014

Antara Aku Kamu dan Masa lalu


Entah dari mana datangnya
Keingin tahuan ini atau hanya ketidak sengajaanku menemukan sisi masa lalumu yang tersimpan rapi dalam album memorimu. Iya, seketika amarahku mencuat seubun - ubun, meloncat menyembur bagai air mancur yang keluar dari atas kepalaku.



Entah. . . . entah apa yang harus aku katakan
Entah. . . . entah apa yang seharusnya aku rasakan
Aku hanya menelan mentah - mentah hal itu, dengan segala bentuk gejolak amarah itu. Hati terkoyak kala itu, ingin kucabik mukamu dan ku talik lidahmu yang menjulur itu. Iya, mungkin seperti itu. Dengan mudahnya kamu berkata manis didepanku di balik semua masa lalumu yang kau simpan dengan rapi itu. Aku cemburu ! Iya jujur itu aku rasakan. AKU CEMBURU MELIHAT LEMBAR DEMI LEMBAR PHOTO - PHOTO ITU YANG SENGAJA KAU BINGKAI RAPI. KAU SIMPAN DALAM FILE DI KOMPUTER JINJINGMU ! AKU CEMBURU . . . . .!!!!! 


Iya, itulah yang ingin aku teriakkan padamu dan mungkin pada sosok lain diphoto itu. Entah. . . .entah . . . .entah. . . . semuanya mencuat begitu saja, semuanya meledak - ledak. AKu merasa begitu benci dengan hal itu ! Mungkin tak pernah kamu sadari. 

Tapi saat emosiku meradang tiba - tiba datang hembusan angin sepoi yang membawa rasa damai dalam hatiku. Lantas, apa yang akan terjadi ?
Seketika amarahku sirna, hilang begitu saja terbawa angin. Iya aku ingat, mungkin aku adalah angin di waktu lalu. Aku yang datang dan masuk dalam hubungan kalian,  bisa dikatakan begitu. Lantas apakah aku penyebab semuanya ? Mungkin salah satu diantaranya. Atau mungkin kita adalah penghianat yang tega meninggalkan orang - orang yang mengatas namakan cinta. Bisa jadi ?

Iya, aku tahu...
Semuanya begitu penuh dengan sandiwara.
Entah lagi - lagi aku ucapkan kata entah, entah mungkin saat ini menjadi teman baikku.

Dulu dengan sosok itu, saat ini denganku, dan entah siapa yang kelak berada dimasa depanmu ? Entah . . . . Entah. . . . Entah. . . . Entah. . . . Aku mulai meradang, keyakinanku hilang, akankah semuanya bisa aku lewati ? Sementara hati ini sudah enggan untuk beranjak darimu. 

Mungkin sosok itu masa lalu. Dan semoga hanya menjadi masa lalu, sungguh aku tak ingin membahasnya satu per satu atau pun semua bagian dari semua masa lalumu itu. Aku bukan orang munafik ! Yang berkata manis, yang berlagak bahagia dibalik kemuraman hati yang mengalir sendu diantara perihnya sayatan - sayat itu. INGAT !!!!

Aku tahu semua itu. . . .
Aku tahu dia masa lalumu. . . .
Aku tahu dia jelas tahu. . . .
Entahlah aku hanya tak ingin melihat semua itu, maafkan aku yang lancang membongkar semua itu ! Maafkan aku yang tak sengaja membuka masa lalumu !

AKU CEMBURU. . . . . !!!!!!!!


Minggu, 02 Februari 2014

Seperti Merasakan Angin Baru

Dimana aku saat semua berlaga mengejar impian dan cita - citanya ?
Dimana aku saat semua berlari untuk menggapai bintang dalam mimpinya ?
Dimana aku saat semua telah melalui proses dalam hidupnya ?

Sedang aku sendiri disini hanya berdiam diri, tak melakukan apapun, tak bergerak sedikitpun, tak ada tanda - tanda kehidupan dalam diriku. Entah kemana gairah untuk berlari seakan hilang. Tapi aku tak ingin berlari, berlaga seperti mereka, yang aku butuhkan itu proses, proses untuk menggali dan menggali apa yang ingin aku jalani sebagai proses dan kemudian berganti pada proses yang lain. aku butuh proses, proses untuk menjadikan aku benar aku, proses untuk menjadikan aku lebih tahu, proses untuk menjadikan aku lebih bisa menggali apa yang ada dalam diri yang baik maupun buruk dimana aku bisa menjadi aku bukan sebagai orang lain, seolah tak ingin berganti identitas. Karena memang aku tak ingin berganti. Seperti apapun itu, aku hanya ingin menjalani proses dan menjadikan aku yang seutuhnya. Aku ingin melampaui semua proses dalam hidupku hingga aku memang aku.

Aku tak ingin terlalu cepat melaluinya, karena aku yakin akan banyak yang aku temui, akan banyak yang mengenalku, akan banyak yang aku tahu, dan aku akan menggali apa yang aku inginkan, apa yang aku butuhkan, dan apa yang ingin aku kembangkan.

Banyak yang bilang hidup itu rumit, hidup itu susah karena kita hidup di dunia yang kejam dan tak pandang bulu untuk menjatuhkan siapapun. Tapi mengapa kita harus takut dengan proses, jika dari proses itu aku memang jadi aku yang seutuhnya.  Malam memang gelap tapi masih ada sinar dari bintang - bintang yang mengangkasa yang bisa membuatnya menjadi terang hingga setiap orang tetap bisa berjalan. Lihat siang yang panas tapi masih banyak pohon untuk berteduh. Lantas apa yang kita takutkan untuk melewati proses.

Ingat !!!
Hidup memang kejam, tapi masih banyak kebaikan - kebaikan disekitar kita yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Yang tertutupi oleh kejamnya hidup, coba lihat dari banyak sisi untuk menilai. Jangan hanya melihat satu sisi diantaranya, karena akan terasa pincang, tertatih yang kemudian membuatmu mejadi malas untuk melalui proses.

Jangan takut untuk melangkah jika langkah itu membawamu pada suatu proses yang baik, sekali lagi aku bilang tutup telingamu dari suara - suara sumbang yang nantinya hanya membuatmu pada kondisi diam dalam takut yang tak berdaya.

Rasakan, jalani, dan resapi seperti saat kamu merasakan hembusan angin yang baru

Sabtu, 13 Juli 2013

Kenapa Begitu ?

Entahlah apa yang menyelimuti pikiranku belakangan. Terasa begitu mendung hingga hatipun ikut terbawa olehnya. Kalut memang, aku pikir mungkin ini hobi baru, hobi mengalutkan perasaan dan pikiran. Memikirkan seseorang yang berujung kesia - siaan karena hanya memikirkan apa yang kurang penting.

Tapi aku tetap memikirkan hal itu, entah mungkin hobi pula memikirkan orang itu. heheheheheheee (KONYOL !). Padahal belum tentu orang itu juga memikirkan saya !
Bodoh, apakah hal tersebut adalah bodoh ? (terserah kalian yang ingin berpendapat bahwa aku bodoh !?). Aku tidak akan marah.

Kenapa begitu ?
kenapa ?
Kenapa ?
Kenapa ?

Hati saya pun tak bisa menjawab !

Senin, 08 Juli 2013

Apa Yang Akan Engkau Tunjukkan Padaku ?

Saat itu dalam sujudku, aku melihatmu. Iya sosokmu begitu jelas tergambar dalam benakku. Entah, seketika seolah perasaanku bercampur. Antara sedih, senang dan entahlah sosok itu memunculkan banyak pertanyaan untukku.

Aku sedih, sedih saat melihat sosok itu, piluku memuncak membentuk runcingan tajam yang seolah menusuk jantungku hingga membuatku membiru. Entah apa yang membuatku sedih hingga memilu saat sosok itu jelas tergambar dalam pandanganku. Aku bergetar, kemudia muncul dalam otakku berjuta pertanyaan tentang maksud yang terjadi. Aku tidak begitu paham. Saat aku bertanya lagi pada-Nya dan hingga sekarang aku belum menemukan jawabannya.

Aku juga begitu senang, kala yang tergambar adalah guratan senyum itu senyum yang selalu aku nanti, senyum yang selalu aku ingin darimu. Iya, yang aku rasa kamu begitu bahagia. Mungkin itu yang membuatku cukup merasa senang.

Tapi, apa yang ada di pikiranku ?
Apakah itu betul kamu atau hanya gambaran dalam anganku saja ?
Atau mungkin Tuhan ingin menunjukkan sesuatu padaku. namun aku belum begitu memahami itu semua. Perasaanku begitu ambigu saat aku melihat sosokmu. Iya sosokmu jelas kamu.

Kamu yang selalu aku bicarakan dengan Tuhan
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sampaiakn Rinduku Untuknya Tuhan


Minggu, 09 Juni 2013

Saat Air Mataku Luruh

Entah mengapa ?
Cucuran itu begitu deras membasahi pipi ku. Wajah ku berhias sendu, tak sedikitpun keceriaan yang hinggap. Mungkin ucapan itu begitu menyakitkan aku. Aku tahu, bagi kalian itu adalah parodi atau mungkin suatu wahana baru yang bisa kalian coba, kalian rasakan. Dan saat kalian sudah mendapat kepuasan. Iya, layaknya sampah. Kalian buang begitu saja.

Aku rasa aku mulai tersinggung dengan semua ucapan itu, jelas hatiku terkoyak saat itu. Mendengar kata demi kata yang menjadi sebuah kalimat yang menusuk hati. Seolah membangkitkan kepingan masa lalu kelam silam. Aku mengerti dengan semua itu, semua jelas masih terekam di otak ku melalui lubang telingaku. Hingga sekarang masih membekas.

Apa kalian pernah berhenti dan kemudian merenungkan apa yang sudah kalian perbuat  ? dan apa yang sudah kalian lontarkan dari mulut kalian ? Apakah pernah ? Yang tajam seperti belati, yang kalian anggap itu adalah sebuah gurauan !

PANTASKAH DIUCAPKAN ?
PANTASKAH KALIAN BANGGA DENGAN ITU SEMUA ?
APAKAH KALIAN SADAR, ITU ADALAH AIB YANG SEHARUSNYA DITUTUP RAPAT - RAPAT ?

Ingat, mereka manusia
Ingat, mereka wanita
Ingat, mereka wanita. Seperti ibumu
Ingat, mereka seorang wanita yang juga punya perasaan sama sepertimu. Sama seperti ibumu atau mungkin saudarimu.

Apa kalian masih saja tega melakukan itu semua, mencari kepuasan, mencari yang kau anggap kebahagiaan padahal semua hanya dorongan nafsumu semata. Ingatlah !!! ingat pada apa yang sudah aku tulis ini.

Mereka seorang manusia, mereka seorang wanita, mereka punya perasaan. Seperti ibumu atau saudarimu. Apa kalian tak juga memahami ? PAHAMILAH !

Apakah harus kalian merasakan hal yang sama, dengan posisi yang terbalik ? Hingga kalian bisa memahami itu semua ?!

Ingat
Selalu ingat ?!
Bagaimana jika yang diperlakukan seperti itu adalah ibumu, saudarimu atau bahkan kekasihmu ? Apa yang akan kalian rasakan ? apakah rasa yang sama ?

Jangan bangga dengan kesalahan yang kau anggap benar !
Jangan !!!
Jangan !!!
Jangan !!!
Jangan Pernah !!!

Iya
Aku rasa aku mulai mengerti mengapa air mataku luruh. Iya Aku mengerti

Kamis, 06 Juni 2013

Kenapa Selalu Kata "Remember" ?

DO YOU REMEMBER ?

Iya,
Terlalu banyak berharap itu boleh,  tapi jangan mengharapkan apa yang tidak patut untuk diharapkan. Apalagi mengharapkan apa yang masih begitu jelas menggantung.
Yang dipercaya  sewaktu - waktu bisa ingkar dengan ucapannya
Yang berjanji bisa saja lupa dengan janjinya

Siapa yang sebenarnya bisa dipercaya ?
Kalau semua masih begitu mengambang ?
Mengapa masih saja dipercaya kalau masih belum ada pembuktian ?

Kenapa selalu kata "Remember" ?
Ketika pertanyaan seperti itu muncul, aku merasa ada kesamaan dengan satu pertanyaan ini. Kenapa Masih  Percaya pada apa yang belum pasti ?
Apakah benar ?
Aku terlalu percaya diri, aku terlalu yakin pada apa yang sebenarnya bukan menjadi hakku. Aku begitu bodoh telah begitu percaya. Dan mungkin aku sudah mengiyakan  olokan mereka  kepadaku.

Aku terima sajalah bila memang pandangan mereka seperti itu  kepadaku.
Tapi kamu ? Apakah sama seperti mereka ?
Apakah  kau menganggapku begitu ?

Kenapa selalu kata "Remember" ?
Iya, aku berharap selalu ingat dengan apa yang kita lalui.
Iya, agar aku selalu ingat kepadamu yang belum tentu mengingatku. Begitukah ?
Coba aku sadari sajalah
Karena itu seharusnya sekarang aku bisa mengurangi rasaku yang meluap - luap ini. Agar tak menghancurkan aku kelak jika kita tak satu.

BUT REMEMBER "I LOVE YOU"

Minggu, 02 Juni 2013

Apakah Aku terlalu BODOH dengan Keputusanku ?


Apakah aku ini terlalu bodoh ?
Jika tidak, mengapa semua melontarkan banyak cibiran bahwa aku bodoh ?


Apa yang sebenarnya membuatku tampak bodoh ?
Apakah semua karena keputusan yang aku ambil ?

Memang kenapa dengan keputusanku ? apakah berdampak pada kehidupan kalian, hingga kalian menyebutku bodoh ?
Atau kalian hanya iri padaku karena tidak bisa sepertiku ?
Mengapa ? Kenapa dengan kata bodoh ?
Kenapa harus bodoh ?
Apakah aku tampak sebegitu bodohnya hingga kalimat itu tercuat dari mulut kalian ?
Tidak sadarkah kalian, perkataan kalian begitu membuat pengaruh dalam setiap langkah saya ?!

Yang menjadi pertanyaan besar adalah kenapa dengan semua keputusan yang saya ambil ? Mengapa menjadi buah bibir kalian ?

Dan mengapa kalian peduli dengan semua keputusan yang aku ambil ?
Apakah berpengaruh ?
Jika tidak, lantas mengapa dengan kata BODOH ?!

Apakah kalian lebih pintar dibanding saya ?
Apakah kalian merasa lebih baik dari saya ?
Apakah kalian pernah berada di posisi saya sekarang ?
Apakah kalian pernah ?
Apakah kalian pernah ?
Hingga menganggap semua keputusan saya adalah hal yang bodoh ?!

Tolong dipahami !!!!


Selasa, 28 Mei 2013

The Beautiful Memories With You

Aku memang sudah lama melihatmu, tapi aku tidak pernah sekalipun memperhatikan sosokmu. Hingga waktu itu tiba. Iya, Aku mengingatnya saat itu tepat aku merasa dekat denganmu Kediri, Mei 2012. Acara yang mungkin tidak pernah kita duga adalah sebagai awal kisah ini mulai terajut.  Aku hanya tersenyum mengingat saat itu, berawal dari facebook.


Jejaring inilah yang bisa dikatakan sebagai salah satu alat mempersatu kita. "hhahahahaaa....." aku tertawa malu mengingat masa itu, saat aku dan kamu mencoba untuk saling mengenal, berbincang dan bertukar nomor telepon. Sampai akhirnya terjadi komunikasi. Aku merasa bahagia kala awal mengenalmu, karena saat itu pikiran dan hatiku terasa begitu pelik atas suatu masalah yang menimpaku. Aku merasa bahagia, karena kala itu mungkin kau bisa dikatakan sebagai pelipur lara. Maaf ! Dan aku ucapkan terima kasih untukmu.

Awal pertemuan itu ternyata berlanjut, komunikasi itu terus terjalin. Lewat telpon dan sms. Kita kerap mengobrol, berbincang bahkan memberikan sedikit perhatian. Saat itulah, laraku mulai menipis, beriring berganti dengan ceria yang kau tebarkan. Kau membuatku melupakan masalah itu. Dan tanpa aku sadari aku menaruh hati padamu. Entah, apakah saat itu engkau tersadar atau tidak.

Bergerak meninggalkan luka lama, berharap bertemu dengan angin sejuk di awal kehidupan yang baru saat aku mulai merasakan kedekatan denganmu. Maafkan aku yang sempat tak jujur tentang apa yang aku sembunyikan. Aku memang egois, tak memikirkan perasaanmu. Luka itu seketika enyah, saat kedekatan kita bertambah semakin dekat.

Meski dunia sempat bergeming tentang keburukan kita, tapi jujur aku tidak pernah mendengar selentingan yang memekakan telinga itu. Tapi sejujurnya aku ingin meminta maaf pada jiwa yang aku tak sengaja menyakiti. Aku sungguh tak bermaksud. Karena saat itu yang aku tahu kau berdiri sendiri dan saat itu aku berkata dalam hatiku

But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goesaway somehow

Aku mulai meyakinkan hatiku untukmu, meski saat itu tidak pernah ada kata indah yang aku nanti tercuat dari mulutmu. Itulah yang aku rasakan.
Hingga saatnya hari itu, hari dimana aku merasa begitu bahagian saat kau berkata, "Adek sayang sama Mas ?". Seketika jantungku berdegup kencang, aku tercengan, telingaku melebar mendengar kata itu. Tapi sayang, saat itu telingaku dipekakan oleh kalimat - kalimat sumbang yang membuatku ragu, tentang masa silammu. Jujur aku sedikit menyesal saat kalimat yang tidak aku kehendaki keluar dari mulutku. "Ga, biasa aja kok !"

Sampai akhirnya aku mencoba untuk sekali lagi meyakinkan hatiku denganmu, mengingat tentang masa laluku dan masa lalumu. Hingga aku merasa benar - benar yakin bahwa memang aku harus denganmu, entah bisikan darimana yang saat itu mampir di telingaku. Dan aku memutuskan untuk mengesampingkan semuanya masa laluku dan masa lalumu. Iya, memang sekali lagi sikap egoisku muncul. Maafkan aku lagi bagi yang merasa tersakiti. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti meskipun sebenarnya ini adalah kejahatan yang aku lakukan dan baru kini aku sadari.

Hingga tiba waktu itu, saat yang tidak pernah aku duga kau mengatakan padaku untuk ke dua kalinya, pertanyaan yang sama dan akupun mengiyakan pertanyaan itu. Dan dari sinilah babak baru denganmu mulai terangkai 7 Mei 2012.

Inilah awal saat aku mencoba menyemangatimu dalam pertandingan itu (FutsaL). Aku begitu bahagia saat kau memintaku untuk menonton pertandingan itu dan dengan senang hati aku lakukan. Ingatkah kamu ? Saat kau ucapkan padaku melalui pesan singkat setelah usai pertandingan itu. "Tadi Goalnya buat kamu Loo...". Kebahagiaanku otomatis bertambah. Saat itu aku merasa berarti. Meskipun begitu sederhana aku begitu menyukainya.

Iya, aku mengingatnya dan tak ingin melupakan setiap waktu yang aku lalui denganmu. Begitu berarti.

 Memang pada awal ini aku belum begitu mengenalmu, tapi aku selalu mencoba dan belajar untuk mengenalmu.


Dan hingga akhirnya aku terlarut dalam kisah yang awal ini. Jujur keraguan sempat menghapiriku sekali lagi. Iya, aku ragu, aku takut, takut saat aku mendengar kabar itu, Kabar yang selalu ku anggap tidak benar. Kabar yang selalu aku mencoba untuk menyangkalnya.


Tapi keegoisanku muncul tak kala rasa ragu itu terus membelengguku. Rasa egois itu yang aku anggap membuatku untuk tetap yakin mengarungi ini semua denganmu. Keegoisan yang berlapis dengan sayangku padamu

Iya, padamu. . . .


Maaf bila ada hal yang terlewat aku tulis dalam catatan ini. Semoga semua itu tetap abadi dan selalu melekat di hati dan pikiran kita berdua ! Maafkan aku juga yang masih sangat penuh kekurangan dalam menjalani semua ini  sayang.


Dan hingga baru aku sadari, kita sudah melewati, kita sudah lalui bersama berjalan dengan waktu yang terus beriringan. Menghapus luka lama perlahan. Memupuk kasih dan sayang diantara kita. Menggenggam mimpi merajut angan yang tanpa batas. Ini adalah babak awal untuk kita melangkah lebih jauh. Semoga Kita Selamanya !



Dengan Hati. 

Aku sayang Kamu !

Diantara Iya Dan Tidak

Saat aku merasakan kebimbangan dan mungkin sudah biasa apabila bibir terkunci. Namun Jika bibir dan hatimu kompak terkunci dengan tiba - tiba. Sedangkan otak di penuhi dengan kalimat pernyataan yang sama.

Begitu mengejutkan, diam bukan suatu jawaban aku rasa. Karena pernyataan itu cukup mengejutkan aku. Entah kalimat apa yang harus aku ungkapkan untuk menanggapi hal itu ? Aku rasa aku belum menemukannya. Aku terdiam dan terus berfikir mulai dari putih, abu - abu hingga hitam. Mulai terang, Remang hingga menjadi benar - benar gelap.

Tetap hening dalam pikiranku.
Hampa Kosong tak ada apapun ?
Memang begitu banyak hal yang menjadi pertimbangan yang baik, buruk, yang aku rasa egois dan aku rasa begitu sulit untuk aku ungkap. Sementara hasratku masih ingin selalu bersamamu. Iya bersamamu, Tak munafik memang itu yang aku rasakan.

Mengapa iya ?
Mengapa tidak ?
Entah semua masih abstrak, meskipun jelas tergambar diotakku.
Tapi aku cukup enggan untuk mengungkapnya ?
Mengapa harus begini ? Semua itu membuatku cukup bodoh ?
Iya, karena aku tak cukup tahu dengan isi kepala dan isi hati itu. Aku merasa bodoh teramat bodoh. Aku menangispun tak akan selesai semua.

Apa yang sebenarnya terjadi ?
Masih aku coba pahami, meskipun pemahamanku terbatas teramat dangkal mungkin untukmu. Iya, itulah yang saat ini mungkin akan kau ucapkan padaku.
Cukup. Antara iya dan tidak

Entah apa yang iya dan entah apa yang tidak ?!


Sabtu, 18 Mei 2013

Cinta Yang Masih Menggantung

   Ketika kamu mempercayakan seseorang untuk memiliki hatimu dan ketika itulah kamu telah memberi orang itu kekuatan untuk bisa menyakitimu.

   Ketika perasaanmu begitu besar hingga kau rela memberikan segalanya yang kau punya. Atau mungkin perasaan itu terasa begitu menyakitkan karena kamu tidak pernah mendapat balasan yang kamu rasa setimpal. 

      Ketahuilah dia, seseorang itu bukan siapa - siapa dan  dia belum tentu menjadi Imammu kelak. Jangan terlalu percaya diri. Apalagi tentang perasaan orang yang tidak pernah kita tahu dalamnya. Perasaan itu bisa berubah. Setiap detik, setiap menit, setiap waktu yang bergerak perasaan mungkin bisa berubah kapan saja.

      Sewajarnya saja kamu menyayangi seseorang yang belum menjadi mukrimmu. Jangan terlalu berlebihan. karena sesungguhnya yang berlebihan itu tidak baik. Begitukan ?
jangan mudah percaya pada janji - janji yang diberikan. Bisa saja itu hanya ucapan menis yang sengaja di ucapkan untuk meluluhkan hatimu. 

Tetaplah berhati - hati pada setiap apa yang kamu lakukan !

Rabu, 15 Mei 2013

Aku Dan Kalian

Iya, kita memecah kesunyian yang sedang melanda jiwa kala hidup terasa begitu hampa. Iya tanpa senyum dan canda kalian kawan.

Aku merindukan kalian Kini.
Saat aku menuliskan semua tawa yang pernah kalian ukir di wajahku dan di wajah kalian yang selalu bersama. Menikmati semua yang terasa begitu mencekam, memaksa kita untuk lebih berkembang menjadi yang lebih baik.










Iya, aku dan kalian memburu waktu bersama melewati setiap babak dalam kehidupan diantara bangku - bangku yang kadang terasa membosankan. Membuang jauh semua pikiran usang yang bisa menjatuhkan. Menyongsong angan yang telah lama terpendam

Semangat Kawan !!!!
Ayo Songsong Masa Depan !!!!