Rabu, 10 Juni 2015

Lagi Lagi Aku.......

Entah apa yang salah
Entah siapa yang patut disalahkan
Entah lah mencari kesalahan memang bukan solusi.
Hanya saja karena entah
Hanya saja karena acuh
Aku malu sendiri dibuatnya
Rasa ingin menangis, rasa ingin tertawa...
Iya, menertawakan diriku yang erlalu bodoh, yang terlalu meremehkan waktu, yang terlalu sombong dan meras semua akan bisa aku lakukan pada waktu yang cukup singkat.

Tapi...
Apa yang sekarang aku dapat ?
Hanya buih - buih penyesalan yang mengembang kepermukaan, memenuhi seluruh muka dan membalurnya dengan rasa malu. Hahahahahaha....
Iya, hanya itu saja yang keluar dari mulutku...

Entah...
Entah nasib atau kutukan ?
Begitu bertubi - tubi datangnya
Tapi semoga dengan ini semua aku bisa berubah...
Merubah diri, berhenti mempermalukan diri, berhenti mencoreng muka sendiri dan berhenti bertindak bodoh. Tanpa perlu kehilangan diri....

Semoga ini pertanda baik...
Karena apapun yang terjadi bukan karena kesengajaan.
Yakin rencana Tuhan Lebih asiikk....

Buat yang ingin menertawakan, silahkan tertawa sekeras mungkin kalau bisa sampai robek itu mulut. Buat yang sedang gembira, bergembiralah hingga terlarut dalam kebahagiaanmu itu...
Aku akan tetap yakin dengan rencana Tuhan....
Dan aku akan menutup telingaku hingga aku tak lagi mendengar cemoohan dan tawa busukmu itu...
Semoga wajah palsumu tetap paslu hingga kau bingung untuk membedakan wajahmu sendiri.

Semoga...
Semoga saja baik...
Semoga baik untuk semuanya !!!!

Minggu, 23 November 2014

Rindu Menghabiskan Senja Bersamamu

Waktu....
Semua adalah waktu...
Senja adalah bagian waktu, waktu yang begitu aku rindukan..
Senja yang menyapa...
Bersama itu aku pilu dibuatnya..
Sendiri dalam lamunan senja, bergumam dalam hati atas nama kerinduan..

Aku rindu...
Rindu menghabiskan senja bersamamu...
Aku tahu senja adalah bagian dari waktu yang selalu bisa berlalu.. Tapi entah, rindu ini tak juga berlalu bersama senja... Yang perlahan pergi, meninggalkan cahaya pelangi di sore itu. Senja aku menyebutnya...

Senja...
Aku merindunya...
Senja sampaikan salamku untuknya...
Senja... Aku merindunya...

Untuk Ayah


Untukmu Ayah


Ayah....
Begitulah aku memanggilmu.

Ayah....
Beribu terima kasih aku ucapkan atas kesabaranmu dan jerih payahmu dalam membesarkan aku. Semoga kelak aku tidak mengecewakanmu, atau bahkan melukaimu.

Ayah....
Meskipun lelah tengah menggelayuti, namun sosokmu tak pernah mengeluh. Engkaulah yang mengajarkan padaku arti sebuah perjuangan. Engkau yang membuatku mengerti arti sebuah ketegaran.

Ayah....
Tak peduli seberapa besar aku bertumbuh, aku bangga telah memilikimu sebagai teladan dalam hidupku. Nafas ayah adalah semangat untukku, perjuanganmu untukku tak akan pernah aku sia - siakan.

Selamat Ulang Tahun Ayah.
Semoga selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang. Hingga Engkau bisa menyaksikan dan berbahagia bersama kesuksesan Kami anak -anakmu.




Doaku selalu menyertaimu

We Love You

Sabtu, 22 November 2014

Malam ini Rindu Menjeratku

Masih malam ini...
Masih pada malam yang sama aku terjaga dari tidurku
Menikmati kebisuan, kebiruan yang mengendap

Masih malam ini...
Waktu masih besamaku tak memburuku, hanya mimbisu
Iya, masih pada malam yang sama bersama waktu yang sama namun dengan rasa yang berbeda
Hampa, hening, sunyi tak bersuara. Ada aku bersama sepi yang selalu menemani.
Sesekali aku merasa begitu dekat dan sesekali aku merasa teramat jauh hingga tak bisa merengkuhnya.

Masih malam ini...
Malamku hening berteman dengan denting jam dinding yang sedikit demi sedikit menyapu kesunyianku, waktu masih tetap setia. Sepipun iku bermanja didekatku.

Masih malam ini...
Malam yang dipenuhi dengan kesunyian, hingga hatiku terasa hampa. Aku memcoba beranjak dari singgahsanahku, tetap hanya sepi yang aku temui. Sepertinya malam ini sepi yang selalu setia menemaniku.

Aku sepi dan merasa rindu...
Malam ini begitu membiru, meringkuk dalam kesunyian bersama malam, sepi, dan denting jam dinding yang bisa sedikit menyapu kesunyianku.

Aku rindu..
Malam ini aku begitu rindu
Malam ini rinduku begitu menusuk, datang bertubi - tubi. Membuatku berteriak dalam kesunyian, iya aku berteriak. Namun tetap saja sepi, tetap saja aku seorang diri.

Aku rindu...
Rinduku seperti belatih...
Rinduku seperti belatih yang menusuk dan menikam jantung
Mungkin begitu rindunya, mungkin begitu rindunya aku, mungkin....
Mungkin...
Mungkin...
Mungkin...
Mungkin...
Mungkin harusnya aku akhiri tulisan ini
Mungkin harusnya aku meringkuk bersama rinduku
Mungkin harusnya aku membungkus rinduku
Mungkin harusnya aku bertemu dengan kerinduan ini agar aku tidak merasa rindu
Mungkin...
Mungkin pada saatnya nanti rinduku akan bertemu dengan yang dirindukan


Rinduku Berlebihan
Rinduku Sungguh Terlalu Rindu
Oohh... Rindu
Aku Merindumu

Ingin Aku Ingin....

Malam ini...
Aku membisu bersama malam, mencoba mengungkap, menyeruakkan mimpi - mimpi yang aku inginkan.

Membisu membuka mataku...
Membisu menerbangkan anganku....
Membisu membebaskan pikiranku...
Membisu membisu membisu membisu membisu....
Aku membisu bersama malam, melampiaskan hasrat otakku yang mungkin untuk saat ini sengaja aku penjarakan, hingga malam ini menjadi liar, tak terkendali dan sama sekali tanpa batasan.

Aku membisu....
Besama malam....
Dalam hati aku tertawa terbahak - bahak, disisi hatiku yang lain aku tetap membisu dan merenungkan apa yang telah aku bebaskan. Salahkah ? Benarkah ?
Semua batasan itu hanya aku yang tahu, tak ada seorangpun yang akan akau biarkan memasang tali penjerat hasratku.

Aku biarkan bebas, aku biarkan lepas terhempas tersapu gelombang dan kemudian tertiup angin. Namun jelas ambigu ketika semua beradu jadi satu.
Obsesi...
Keingin Tahuan...
Optimisme...
Rasa Egois....
Ketakukan....
Teriakan....
Tangisan....
Ragu...
Senyuman....
Tawa...
Khayalan....
Mimpi...
Harapan dan Doa...

Sungguh aneh rasanya, ketika semua beradu menjadi satu bergejolak penuh ambisi. Namun sayang, langkahku hanya dalam otakku, hanya sebatas mimpi. Iya, sebatas mimpi yang aku sendiri bingung ingin membawanya kemana. Atau mungkin aku harus terlelap hingga usai aku rajut semua mimpi itu kemudia terbangun dan menyadari itu hanya mimpi, atau mungkin aku harus hidup didalam mimpi.

Ingin aku...
Aku imgin...
Ingin aku ingin...
Ingin ingin aku...
Aku sungguh menginginkannya...
Tapi sampai saat ini langkahku belum berajak dari ranjang yang nyaman ini, yang membuatku bertahan bermalasan hingga aku melupakan mimpi itu. Semu memang, tak nyata mimpi itu.


Tapi aku tetap bermimpi...
Aku tetap ingin menjadikannya nyata...
Meski aku belum memulai langkahku.

Selasa, 18 Maret 2014

BIARKAN aku ENGGAN

Biarkan hatimu yang bicara. . . .
Biarkan hatimu yang merasakan mengiringi setiap perasaan yang mengalir. . . .
Biarkan hatimu yang menentukan jalan mana yang akan kamu pilih. . . . .
Biarkan pikiranmu berjalan mengiringi semua yang terjadi. . . .
Biarkan saja. . . .
Biarkan saja semuanya. . . .
Biarkan semua berjalan seperti biasanya. . . .
Biarkan kehidupan ini berjalan sebagaimana mestinya, sewajarnya saja. . . .
Biarkan bahagia ini menyebar. . . .
Biarkan sedih ini menyebar. . . .
Biarkan Semua rasa kelabu semakin membiru. . . .
Biarkan semua rasa yang hancur menjadi semakin berkeping. . . .
Biarkan semua rasa yang telah luruh terseret terbawa suasana yang haru. . . .
Biarkan saja. . . .
Biarkan saja. . . .
Biarkan saja. . . .

Enggan untuk membaca. . . .
Enggan untuk mengerti. . . .
Enggan untuk memahami. . . .
Enggan untuk meraskan. . . .

Biarkan saja berjalan sebagaimana mestinya
Biarkan saja berjalan seperti maumu
Biarkan saja berjalan seperti daun yang terbawa angin
Biarkan terbalut kesedihan
Biarkan terseret rasa yang perih

BIARKAN AKU ENGGAN !!!

Senin, 17 Maret 2014

Antara Aku Kamu dan Masa lalu


Entah dari mana datangnya
Keingin tahuan ini atau hanya ketidak sengajaanku menemukan sisi masa lalumu yang tersimpan rapi dalam album memorimu. Iya, seketika amarahku mencuat seubun - ubun, meloncat menyembur bagai air mancur yang keluar dari atas kepalaku.



Entah. . . . entah apa yang harus aku katakan
Entah. . . . entah apa yang seharusnya aku rasakan
Aku hanya menelan mentah - mentah hal itu, dengan segala bentuk gejolak amarah itu. Hati terkoyak kala itu, ingin kucabik mukamu dan ku talik lidahmu yang menjulur itu. Iya, mungkin seperti itu. Dengan mudahnya kamu berkata manis didepanku di balik semua masa lalumu yang kau simpan dengan rapi itu. Aku cemburu ! Iya jujur itu aku rasakan. AKU CEMBURU MELIHAT LEMBAR DEMI LEMBAR PHOTO - PHOTO ITU YANG SENGAJA KAU BINGKAI RAPI. KAU SIMPAN DALAM FILE DI KOMPUTER JINJINGMU ! AKU CEMBURU . . . . .!!!!! 


Iya, itulah yang ingin aku teriakkan padamu dan mungkin pada sosok lain diphoto itu. Entah. . . .entah . . . .entah. . . . semuanya mencuat begitu saja, semuanya meledak - ledak. AKu merasa begitu benci dengan hal itu ! Mungkin tak pernah kamu sadari. 

Tapi saat emosiku meradang tiba - tiba datang hembusan angin sepoi yang membawa rasa damai dalam hatiku. Lantas, apa yang akan terjadi ?
Seketika amarahku sirna, hilang begitu saja terbawa angin. Iya aku ingat, mungkin aku adalah angin di waktu lalu. Aku yang datang dan masuk dalam hubungan kalian,  bisa dikatakan begitu. Lantas apakah aku penyebab semuanya ? Mungkin salah satu diantaranya. Atau mungkin kita adalah penghianat yang tega meninggalkan orang - orang yang mengatas namakan cinta. Bisa jadi ?

Iya, aku tahu...
Semuanya begitu penuh dengan sandiwara.
Entah lagi - lagi aku ucapkan kata entah, entah mungkin saat ini menjadi teman baikku.

Dulu dengan sosok itu, saat ini denganku, dan entah siapa yang kelak berada dimasa depanmu ? Entah . . . . Entah. . . . Entah. . . . Entah. . . . Aku mulai meradang, keyakinanku hilang, akankah semuanya bisa aku lewati ? Sementara hati ini sudah enggan untuk beranjak darimu. 

Mungkin sosok itu masa lalu. Dan semoga hanya menjadi masa lalu, sungguh aku tak ingin membahasnya satu per satu atau pun semua bagian dari semua masa lalumu itu. Aku bukan orang munafik ! Yang berkata manis, yang berlagak bahagia dibalik kemuraman hati yang mengalir sendu diantara perihnya sayatan - sayat itu. INGAT !!!!

Aku tahu semua itu. . . .
Aku tahu dia masa lalumu. . . .
Aku tahu dia jelas tahu. . . .
Entahlah aku hanya tak ingin melihat semua itu, maafkan aku yang lancang membongkar semua itu ! Maafkan aku yang tak sengaja membuka masa lalumu !

AKU CEMBURU. . . . . !!!!!!!!